Pemerintah telah mengumumkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011 yang disampaikan secara langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan parlemen, Senin 16 Agustus 2010.Asumsi makro yang disampaikan pemerintah mengacu pada kondisi perekonomian domestik dan internasional dengan komposisi pertumbuhan ekonomi dipatok 6,3%, laju inflasi di kisaran 5,3%, suku bunga Bank Indonesia tetap bertahan di level 6,5% serta nilai tukar rupiah Rp9.300.
Dibandingkan dengan asumsi makro RAPBN 2010, saat itu pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5%, laju inflasi 5%, nilai tukar rata-rata per dolar AS sebesar Rp10.000, praktis yang diumumkan presiden awal pekan ini memberi kepercayaan bagi pelaku pasar.
Bahkan dalam pidatonya, Presiden SBY optimistis dengan arah perkembangan yang positif pertumbuhan ekonomi di 2010 ini, diperkirakan dapat mencapai 6,0 persen, lebih tinggi dari perkiraan semula.
Kepercayaan pemerintah dengan asumsi makro yang disusun, rupanya cukup ditanggapi dingin oleh pelaku pasar. Sejak diumumkan nota keuangan tersebut, indeks saham masih berjalan gontai.
Meski pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi menembus level 3.100, laju indeks masih terlihat perlahan.
Dalam sebuah sesi wawancara, Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia Danny Eugene menyatakan pemerintah kurang berani melakukan penetrasi dengan mematok asumsi makro yang lebih pro-pasar.
Dia melihat dari sisi asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar masih cukup tinggi di level Rp9.300, sementara pemerintah di 2011 kemungkinan masih akan kebanjiran "hot money" dari kalangan investor yang ingin berinvestasi short term.
Sepertinya halnya tahun ini, pemerintah masih mengandalkan instrumen penerbitan surat berharga negara (SBN) sebagai penopang pendapatan.
Kebijakan ini berpotensi mendorong permintaan terhadap rupiah yang cukup tinggi, seiring minat investor asing cukup besar menggelontorkan dana segarnya membeli SBN.
"Semestinya nilai tukar bisa Rp8.500-Rp8.700," katanya.
Pelaku pasar rupanya lebih optimistis ketimbang SBY, mengingat kemungkinan peluang naiknya posisi invesment grade Indonesia ke level yang lebih baik.
Naiknya investment grade ini seolah memberi sinyal, mulai membaiknya kepercayaan pemodal berinvestasi di dalam negeri, meskipun skala investasinya masih akan banyak terjadi di pasar uang.
Walaupun deretan angka yang disampaikan ini masih sebatas asumsi dan masih berpeluang direvisi, kebijakan yang ditempuh pemerintah terkesan masih cukup hati-hati.
Seperti dalam setiap pidato maupun sambutannya, presiden selalu memberi instruksi, pesan dan himbauan. Mari kita pertajam fokus dan prioritas alokasi belanja negara untuk mencapai empat pilar pembangunan kita, yaitu: pro pertumbuhan ekonomi; pro penciptaan lapangan kerja; pro pengentasan kemiskinan; dan pro lingkungan hidup.
Pesan sejenis dan berulang yang sering terucap sejak 2004 lalu. Salam.
0 komentar:
Poskan Komentar